Pengaruh Metode Persediaan FIFO & Average Di SPT Tahunan

19 December 2023

Pengaruh Metode Persediaan FIFO & Average di SPT Tahunan

Tahukah Kamu Apa itu FIFO dan Average?

Teman-teman yang berlatarbelakang keuangan, bisnis, dan perpajakan tentu tidak asing lagi dengan istilah FIFO dan Average. Dalam dunia bisnis, perusahaan seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan dan tugas yang rumit dan komprehensif dalam mengelola persediaan mereka secara berkala. Salah satu pertanyaaan kemudian muncul: Bagaimana cara yang paling akurat untuk mencatat nilai persediaan tersebut? Oleh karena itu, pada artike ini, kita akan mengulas dua metode utama dalam perhitungan persediaan yaitu FIFO (First-In, First-Out) dan metode rata-rata (Average) dengan kaitannya terhadap SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan).

Metode FIFO dan Average Merupakan Dua Metode Penilaian yang Diakui oleh UU PPh Pasal 10 Ayat 6

Pemilihan metode akuntansi persediaan di Indonesia mengikuti ketentuan PSAK No. 14, yang mengamanatkan penggunaan tiga metode persediaan: First In First Out (FIFO), Weighted Average, dan Last In First Out (LIFO). Namun, berdasarkan undang-undang perpajakan Indonesia, hanya dua metode yang diakui, yaitu FIFO dan Average. Perbedaan dalam penggunaan metode persediaan ini pada akhirnya berdampak pada perbedaan dalam penghitungan laba, sehingga penting bagi perusahaan untuk memilih metode yang sesuai guna mencapai laba yang optimal dan akuntabel.

Di Indonesia, metode akuntansi persediaan mengacu pada UU No. 10 tahun 1994 pasal 10 ayat 6 yang hanya memperbolehkan perusahaan menggunakan metode FIFO dan average. Dalam dinamika bisnis yang berkembang pesat seiring dengan tuntutan teknologi dan isu keberlanjutan, efisiensi operasional adalah kunci keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan bisnis. Salah satu aspek terpenting dari efisiensi ini adalah manajemen persediaan yang tepat baik melalui penerapan FIFO dan average. Perusahaan perlu mengelola operasional yang dimiliki secara strategis dan tertata karena efisiensi persediaan memiliki efek domino terhadap kinerja operasional tetapi juga mencerminkan akurasi dalam pelaporan keuangan. Oleh karena itu, dua metode yang diakui oleh undang-undang adalah FIFO dan Average.

Secara sederhana, metode FIFO adalah pendekatan yang menyatakan bahwa barang yang pertama kali diterima akan menjadi barang yang pertama kali dijual. Dalam hal ini, nilai persediaan akhir dihitung berdasarkan harga beli barang terakhir. Sementara itu, Metode Rata-Rata Tertimbang (Average) adalah metode penilaian persediaan yang menghitung nilai persediaan dengan membagi total biaya barang yang tersedia untuk dijual dengan jumlah unit yang tersedia. Dengan cara ini, nilai persediaan akhir dan beban pokok penjualan dapat dihitung menggunakan harga rata-rata dari barang-barang yang ada. Metode FIFO dan rata-rata memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memahami karakteristik dan implikasi dari masing-masing metode ini guna mencapai efisiensi perusahaan.

Menurut Shoimah (2023), penilaian terhadap persediaan akan berpengaruh terhadap harga pokok penjualan, yang nantinya juga berpengaruh terhadap pendapatan laba yang akan diperoleh oleh perusahaan. Oleh karena itu, untuk dapat meningkatkan laba dan informasi keuangan yang akuntabel salah satu alternatifnya adalah dengan mengggunakan metode penilaian persediaan yang tepat. Menurut Abdallah & Putra (2020), ketidakakuratan dalam menentukan biaya atau harga pokok penjualan dapat mengakibatkan kesalahan dalam perhitungan laba perusahaan. Jika jumlah persediaan barang meningkat, ini akan mengakibatkan penurunan dalam beban pokok penjualan, yang pada gilirannya akan meningkatkan laba bruto (gross profit) dan laba bersih (net income). Sebaliknya, jika jumlah persediaan barang menurun, hal ini akan mengakibatkan peningkatan beban pokok penjualan, yang pada akhirnya akan mengurangi laba bruto dan laba bersih (Lestari et al., 2019).


Baca Juga: ArtaxTalks Special Edition: Strategi Pajak di Tahun Politik


Membedah Keunikan Metode FIFO dalam Pengelolaan Persediaan

Metode FIFO, atau First-In, First-Out, adalah pendekatan dalam mengelola persediaan di mana barang yang pertama kali masuk ke gudang atau penyimpanan adalah yang pertama kali dijual. Dalam konteks ini, harga beli barang yang pertama kali diterima adalah yang digunakan untuk menghitung nilai persediaan akhir. Dengan kata lain, metode ini mengasumsikan bahwa barang-barang yang pertama kali dibeli adalah yang pertama kali keluar dari persediaan perusahaan. Metode FIFO sangat relevan dalam situasi di mana harga barang mengalami kenaikan seiring berjalannya waktu. Dalam hal ini, menggunakan harga beli yang lebih rendah dari persediaan awal untuk menghitung nilai persediaan akhir dapat menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dalam laporan laba rugi. Namun, di sisi lain, ketika harga barang cenderung turun, metode FIFO dapat menciptakan nilai persediaan yang lebih tinggi, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan pajak yang lebih tinggi.

Penggunaan metode FIFO sangat penting untuk mencegah produk dari penyimpanan berkepanjangan, sehingga menghindari risiko kadaluwarsa atau produk yang kedaluwarsa. Salah satu keunggulan dari metode FIFO adalah kemampuannya untuk menghasilkan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang rendah, meningkatkan laba kotor, dan memperbesar jumlah persediaan akhir. Namun, meskipun memiliki kelebihan tersebut, penggunaan metode FIFO juga memiliki beberapa kekurangan, termasuk pembayaran pajak yang lebih besar dan ketidakakuratan dalam mencatat laba yang sebenarnya.

Contoh penggunaan metode FIFO dapat ditemui pada bisnis-bisnis seperti warung, minimarket, atau supermarket. Dalam model ini, produk-produk seperti makanan kemasan, peralatan mandi, atau kosmetik yang masuk pertama kali akan dijual atau dikeluarkan terlebih dahulu. Di sisi lain, produk-produk yang baru masuk akan disimpan di dalam gudang dan akan dijual di masa yang akan datang. Dengan cara ini, perusahaan memastikan bahwa produk-produk yang berusia lebih tua dipasarkan terlebih dahulu, mengurangi risiko produk yang kedaluwarsa dan memastikan bahwa persediaan tetap segar dan relevan dengan permintaan pasar. Metode FIFO sangat cocok untuk produk yang memiliki tanggal kadaluwarsa, menghasilkan harga pokok penjualan yang rendah, laba yang dihasilkan kurang akurat, dan laba kotor yang dihasilkan lebih besar, sehingga pajak yang terutang lebih besar juga.

Mengoptimalkan Laba dengan Metode Penilaian Persediaan Average (Rata-rata)

Metode Average, atau rata-rata tertimbang, adalah pendekatan di mana harga barang yang dijual dicatat berdasarkan rata-rata harga dari seluruh barang yang ada. Dalam metode ini, nilai Harga Pokok Average (rata-rata tertimbang) dapat dihitung dengan menambahkan total saldo awal barang dagangan dengan keseluruhan pembelian barang dagangan, kemudian hasilnya dibagi dengan total kuantitas barang dagangan yang dibeli, ditambah dengan kuantitas saldo awal barang dagangan. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat mencatat dan mengelola persediaan dengan cara yang lebih stabil dan terukur. Metode average ini terdiri dari dua bagian yaitu sistem fisik dan sistem perpetual.

Dalam metode pencatatan perpetual, setiap transaksi persediaan direkam secara langsung ketika terjadi. Saat pembelian barang dagangan, rekening persediaan barang dagangan didaftarkan sebagai debit, sementara kas atau utang dagang dicatat sebagai kredit. Pada saat penjualan, dua jurnal dicatat: pertama, piutang dagang dicatat sebagai debit dan penjualan dicatat sebagai kredit. Kedua, harga pokok penjualan dicatat sebagai debit dan penjualan dicatat sebagai kredit. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memiliki pemahaman yang lebih rinci tentang perubahan persediaan dan mendukung manajemen stok yang efisien.

Di sisi lain, dalam sistem pencatatan periodik, transaksi persediaan direkam secara periodik, biasanya pada akhir periode akuntansi tertentu. Saat pembelian, rekening pembelian ditambahkan sebagai debit, sedangkan kas atau utang dagang dicatat sebagai kredit. Pada saat penjualan, hanya satu jurnal yang dicatat: piutang dagang dicatat sebagai debit dan penjualan dicatat sebagai kredit. Meskipun pendekatan ini lebih sederhana, ini tidak memberikan visibilitas real-time terhadap persediaan yang tersedia dan memerlukan perhitungan persediaan akhir untuk mengetahui nilai persediaan yang sebenarnya.

Metode rata-rata ini memiliki beberapa karakteristik dan keunggulan di antaranya: Cocok untuk produk yang tidak memiliki kadaluwarsa seperti furniture dan alat tulis kantor, lebih akurat, karena semua biaya yang dikeluarkan langsung dibagi dengan banyaknya unit persediaan, serta laba yang dihasilkan lebih kecil sehingga pajak yang terutang lebih kecil daripada metode FIFO.

Dalam dunia bisnis yang penuh tantangan ini, pemilihan antara metode FIFO dan metode Average merupakan langkah strategis yang sangat penting. Metode FIFO, dengan prinsip "barang pertama masuk, barang pertama keluar," memastikan bahwa persediaan yang lebih lama digunakan terlebih dahulu, mengurangi risiko barang kadaluwarsa dan mengoptimalkan nilai persediaan. Sementara itu, metode Average, yang menghitung nilai persediaan berdasarkan rata-rata harga, memberikan stabilitas dan kesederhanaan, ideal untuk bisnis dengan persediaan yang cenderung stabil.

Dalam mengambil keputusan, perusahaan harus mempertimbangkan dinamika unik bisnis mereka, fluktuasi pasar, serta kompleksitas persediaan. Penggunaan metode yang sesuai tidak hanya memastikan manajemen stok yang efisien tetapi juga mempengaruhi laporan keuangan dan kebijakan perpajakan. Dengan memahami kekuatan dan keterbatasan masing-masing metode, perusahaan dapat mengambil langkah yang tepat, mengarah pada pengelolaan persediaan yang cerdas dan keputusan keuangan yang lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

Abdallah, Z., & Putra, D. E. (2020). Analisis Perhitungan Persediaan Dengan Metode Fifo dan Average Pada Pangkalan LPG 3 Kg Riti Juspita Periode 2018-2019. Profita, 2(1), 12-23. http://e-journal.stie-sak.ac.id/index.php/62201/article/view/268.

IAI. (2008). PSAK 14 Persediaan. http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/pernyataan-sak-16-psak-14-persediaan.

Kemenkeu. 1994. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1994. https://jdih.kemenkeu.go.id/fulltext/1994/10tahun~1994uu.htm.

Lestari, D., Subagyo, & Limantara, A. D. (2019). Analisis Perhitungan Persediaan Bahan Baku Dengan Metode Fifo Dan Average (Study Kasus Pada UMKM Aam Putra Kota Kediri). Cahaya Aktiva, 09(02), 25–47. https://ojs.cahayasurya.ac.id/index.php/CA/article/view/56.

Shoimah, I. (2023). Analisis Penilaian Persediaan Obat Dengan Menggunakan Metode Fifo Dan Average Di Klinik Idaman As’ adiyah Sukorejo Banyuputih Situbondo. Mazinda: Jurnal Akuntansi, Keuangan, dan Bisnis, 1(2), 15-27. https://www.journal.ibrahimy.ac.id/index.php/Mazinda/article/view/3502.

Written by Samintang - Agent of Artax


Artikel ini merupakan pandangan pribadi tim penulis dan tidak mencerminkan pendapat resmi perusahaan kami.

BROWSE ALL ARTAX NEWS & ARTICLES
20 January 2023
Artax Company Profile
03 October 2023
Metode Langsung vs Tidak Langsung Dalam Penyusunan Laporan Arus Kas
08 November 2023
Metode Pencatatan Akuntansi: Basis Kas (Cash) vs Akrual (Accrual)

Talk To Artax

At Artax, we're dedicated to providing unparalleled tax consultation services. Let us help you smoothen the complex Indonesian tax system with expertise and precision.